Memanusiakan Para “Pahlawan” Kebersihan di Tengah Pandemi

Kali ini penulis ingin memberikan opini setelah melihat peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar penulis. Seperti yang kita tahu saat ini kita dihimbau untuk melalkukan karantin mandiri di rumah masing masing. Beberapa perkantoran juga mempersilahkan karyawannya untuk bekerja dari rumah. Dikatakan bandarqq365 namun tidak semua bisa seperti itu. Tenaga kebersihan, tenaga keamanan, dan tenaga kebersihan masih tetap mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri demi kebaikan bersama. Mungkin kita bisa santai saja dirumah sambil bermain poker online tapi mereka tidak, mereka terus bekerja tidak hanya demi hidup mereka sendiri.

Kita tentu tidak asing dengan mereka, para Pahlawan Kebersihan, yang setiap harinya selalu siaga dengan “senjata” mereka. Gaji para Pahlawan Kebersihan mungkin memang kecil, tapi tugas yang mereka sandang tergolong berat. Namun, tentunya gaji bukan menjadi patokan bagaimana sikap kita memperlakukan seseorang. Tapi pada kenyataannya, bahkan kita sering lupa akan peran mereka, sehingga cenderung mengabaikan keberadaannya. Kita pasti berpendapat bahwa petugas kebersihan atau office boy, bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengan walikota atau presiden. Tak dapat dipungkiri bahwa mereka adalah orang-orang yang profesinya sering dianggap rendahan oleh kita semua. Tapi dapatkah kita bayangkan, bagaimana keadaan lingkungan kampus kita tanpa mereka? Lantai kampus pasti tak akan mengkilap, kaca-kaca pasti akan kotor, tanaman kampus tak ada yang merawat, bangku kelas tidak akan tertata rapi, dan sebagainya.

Kita jarang atau bahkan tidak pernah mengucapkan kata permisi setiap kali melewati Pahlawan Kebersihan saat mereka sedang membersihkan lantai yang akan kita kotori dengan sepatu kita. Memang itu merupakan bagian dari tugas mereka, untuk menjaga kebersihan dan kerapian kampus, tapi terkadang hal tersebut membuat kita lupa jika itu bukan hanya tugas mereka, tetapi juga kita sebagai mahasiswa. Banyak hal-hal kecil yang dapat kita lakukan untuk mengahargai keberadaan mereka. Ambil saja contoh, dengan membuang sampah makanan kita pada tempatnya, atau kembali merapikan bangku kuliah setelah jam selesai. Anggap saja hal itu adalah bagian dari tugas kita sebagai mahasiswa untuk menjaga kebersihan kampus.

Kita tidak akan tahu betapa berharganya sebuah ucapan “permisi” atau “terima kasih” bagi mereka, para Pahlawan Kebersihan. Setidaknya dengan ucapan-ucapan sederhana seperti itu mereka pasti akan merasa dihargai sebagai manusia, berbeda dengan saat kita hanya seenaknya menyelonong di depan mereka saat sedang bersih-bersih. Banyak hal-hal kecil yang dapat kita lakukan untuk menghargai keberadaan orang lain. Terlebih dengan predikat “mahasiswa” yang kita sandang, seharusnya kita bisa menghargai semua orang tanpa memandang status sosial mereka. Karena tidak peduli seberapa tinggi atau rendah status sosial yang seseorang miliki, mereka tetaplah manusia yang tentunya harus dimanusiakan.